Jumat, 30 September 2011

Serba-Serbi

Hellloooo.....
Rasanya kengeeeenn sekali sudah lama tak ngeblog. Setiap mau menulis ada saja gangguan yang bikin aku menyerah. Rasa malas yang tiba-tiba menyergap meskipun dari rumah sebenarnya sudah ada niat buat menulis, kesibukan ditempat kerja yang tak dapat di tinggal-apalagi sekarang menghandle 2 jobs...Sekdir + Receptionist...disaat tengah berkonsentrasi...eehh ring, ring telephone berdering..buyar dech konsentrasi, alhasil mood berubah seketika dan malaslah yang timbul buat ngebuat blog.
Sebenarnya dengan ngeblog little bit bisa membuat hati plong dan lega, meskipun blogging itu sesuatu yang bisu.

Sampai detik ini aku bersyukur sekali dengan hidupku. Apa yang aku inginkan bisa kupenuhi sendiri meskipun belum semuanya. Suami dan anakku yang semakin tumbuh besar, dengan segalan kelucuan dan kenakalannya yang membuat hati berwarna; kadang ngerasa jengkel, letih tapi itu semua terbayar penuh dengan segala kelucuan dan senyum tawanya. Terimakasih atas segala rezeqi, kebaikan, kesehatan, kemudahan dan ketenangan dalam hati ya Rabb... :)

Kamis, 07 Juli 2011

masih mencintaiku....

kata-kata yang kau ucapkan dan kau kirimkan kepadaku....ternyata tidak terbukti..dan semakin kau lihat, akulah yang benar sampai detik ini....:)
kau masih dan akan terus mencintaiku ....
entah, sampai kapan hal ini akan terpelihara  :)
yang jelas...
memang bintang telah mempertemukan kita
bintang telah membawa hembusan nafas kita
bintang yang tetap memberi cahaya cintanya kepada kita

yang jelas, tanpa cinta kita tidak akan tersatukan ...

Rabu, 25 Mei 2011

the last

Tuhan....
mungkin ini yang terbaik bagi semua
aku akan melepaskannya tanpa diminta
aku akan membuatanya pergi dariku meski dia menolak
yach itu yang aku lakukan!!

melepaskanmu bukan berarti aku tidak menyayangimu
tetapi...
aku tahu, bahwa semakin membiarkan ini semua berjalan
semakin engkau akan menyakitiku dan menyakiti semuanya

meskipun aku yakin Tuhan
dia tidak akan pernah bisa melupakan aku
tidak akan pernah bisa
:)

Rabu, 20 April 2011

by kahlil gibran

kekasihku,
cinta adalah bara api yang melalap hati manusia
aku teringat sewaktu awal kali berjumpa denganmu, lalu kau ku kenal selama bertahun-tahun
dan akupun tetap teringat kendati perpisahan suatu waktu pasti tiba
lantaran perpisahan tidak akan sanggup memisahkan cinta kita

kekasihku,
apakah engkau masih ingat saat ditepi aliran sungai
kita duduk dan saling memandang ?...........................
apakah engkau sadar, saat itu matamu bercakap
kepadaku dan mengutarakan bahwa cinta yang engkau jalin bersamaku tidak lahir dari rasa iba atas kerendahan diriku
namun berasal dari keadilan cinta yang sejati :-)

-SENANDUNG-


aku adalah keras kepala penggoda, pencinta dan hakikat cinta
dan inilah hidupku dan beginilah aku hidup

sungguh salah jika mengira cinta datang dari persahabatan dan lamanya perkenalan
cinta adalah musim semi yang sial dari perasaaan jiwa
 
disinilah cinta mulai menggubah prosa kehidupan kedalam hymne nyanyian
disinilah kerinduan cinta menanggalkan kebimbangannya
sebagaimana pandangan pertama dari mata sang kekasih, laksana benih yang ditaburkan di hati manusia, maka ciuman dari bibir kekasih adalah seperti bunga diatas ranting Pohon Kehidupan.
aku dan pantai adalah sepasang kekasih
didekatkan cinta dipisahkan birahi
ketika fajar, kulantunkan gairah cinta asmara pada telinga kekasihku
dan ia pun merengkuhku ke dalam dadanya
ketika sore, kulantunkan doa kerinduan dan ia pun menciumku dengan penuh kehangantan
ketika malam, sesekali aku terjaga dan menyanyi
nyanyian isi hati.......................
aroma bunga bercampur dengan angin sepoi-sepoi ketika kami memasuki kebun itu
duduk dengan tenang disebuah bangku dekat pohon melati
mendengarkan desahan alam yang tidur
dan dibawah langit biru dimana sepasang mata langit menyaksikan drama kami
sungguh nyanyian yang mensyaratkan isi hati terindah sepasang manusia ditengah keindahan cinta




Kamis, 31 Maret 2011

lelah, galau, syukur, bahwa dan pasrah

  • ditulis oleh seseorang untuk temannya   
  • dan karena menurutku bagus, aku minta ijin dia buat share ke blog ku ini :)

Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.
Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan. Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.

Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal. 
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun. 
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi. Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti. 
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan "apa kabar...". 
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan. 
Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya. 
Lelah untuk mencari secuil kesempatan menyentuh atau membauinya. Lelah dan lelah dan lelah..  

Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih. Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment. Diam untuk mencatat segala yang terjadi. Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal. Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil. Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya "apakah aku cukup pantas?" Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam. Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah. Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir.  

Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis. 
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan. 
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka. 
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan. Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup. 
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi. 
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi. 
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.  

Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak. Namun itu pula yang saya rasakan selama ini. Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami. 
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam. 
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal. 
Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung. 
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan "Aku mencintaimu". 
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai. 
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan "aku baik-baik saja". Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.  

Akhirnya, 
bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas. Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna, karena saya diteguhkan dan menjadi berkat atas segala rasa perih yang senantiasa ada didalam diri.
Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Hidup. 
Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah. 
Bahwa saya juga bukan manusia super. 
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat. 
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai. 
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang. 
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa. 
Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar. 
Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup.  
Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima, berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.
Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya. 
Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin. 
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan. 
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan "Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja." Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki, mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta. 

Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.   
Semoga saya bisa. 
Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya. 
Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya. 
Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan Dan tentunya dalam sebuah 
KEPASRAHAN yang teramat dalam.